Sabtu, 26 Maret 2011
journal perubahan konvergensi psak ke ifrs
oleh : Rindu Rika Gamayuni
PERKEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
INDONESIA MENUJU INTERNATIONAL FINANCIAL
REPORTING STANDARDS
ABSTRACT
The Indonesian Financial Accounting Standards needs to adopt IFRS, so that the Indonesian financial reports can be accepted globally and the Indonesian companies are able to enter the global competition to attract the international investors. Currently, the adoption by Indonesian PSAK is in the form of harmonization, which means partial adoption. However, Indonesian is planning to fully adopt the IFRS by 2012. Such an adoption will be mandatory for listed and multinational companies.
The decision as to whether Indonesia will fully adopt the IFRS or partly adopt for harmonization purposes needs to be considered carefully. Full adoption of IFRS will enhance the reliability and comparability of the financial reports internationally. However, it may contradict the Indonesian tax systems and other economic and political situations. If Indonesia were to adopt fully the IFRS by 2012, the challenges are faced firstly by the academic society and the companies. The curriculum, syllabi, and literature need to be adjusted to accommodate the changes. These will take considerable time and efforts due to the many aspects related to the changes. Adjustments also need to be done by corporations or organizations, particularly those with international transactions and interactions. Full adoption also means the changing of accounting principles that has been applied as accounting standards worldwide. This might not be achieved in a short period, due to a number of reasons: (1) accounting standards are highly related with the tax systems. Adoption to IFRS internationally may change the tax systems in each country that fully adopt the IFRS. (2) Accounting standards are accounting policies in order to fulfil the national political and economic necessities that vary in each country. This might be the significant challenges in fully adopting the IFRS.
Keyword : International Financial Reporting Standards, Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan, fully adoption, accounting policies, tax systems.
Revisi terbaru PSAK yang mengacu pada IFRS
Sejak Desember 2006 sampai dengan pertengahan tahun 2007 kemarin, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah merevisi dan mengesahkan lima Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
Revisi tersebut dilakukan dalam rangka konvergensi dengan International Accounting Standards (IAS) dan International financial reporting standards (IFRS). 5 butir PSAK yang telah direvisi tersebut antara lain: PSAK No. 13, No. 16, No. 30 (ketiganya revisi tahun 2007, yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2008), PSAK No. 50 dan No. 55 (keduanya revisi tahun 2006 yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2009).
1. PSAK No. 13 (revisi 2007) tentang Properti Investasi yang menggantikan PSAK No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi (disahkan 1994),
2. PSAK No. 16 (revisi 2007) tentang Aset Tetap yang menggantikan PSAK 16 (1994) : Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain dan PSAK 17 (1994) Akuntansi Penyusutan,
3. PSAK No. 30 (revisi 2007) tentang Sewa menggantikan PSAK 30 (1994) tentang Sewa Guna Usaha.
4. PSAK No. 50 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan : Penyajian dan Pengungkapan yang menggantikan Akuntansi Investasi Efek Tertentu
5. PSAK No. 55 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan : Pengakuan dan Pengukuran yang menggantikan Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai.
Kelima PSAK tersebut dalam revisi terakhirnya sebagian besar sudah mengacu ke IAS/IFRS, walaupun terdapat sedikit perbedaan terkait dengan belum diadopsinya PSAK lain yang terkait dengan kelima PSAK tersebut. Dengan adanya penyempurnaan dan pengembangan PSAK secara berkelanjutan dari tahun ke tahun, saat ini terdapat tiga PSAK yang pengaturannya sudah disatukan dengan PSAK terkait yang terbaru sehingga nomor PSAK tersebut tidak berlaku lagi,
yaitu :
1. PSAK No. 9 (Revisi 1994) tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban
Jangka Pendek pengaturannya disatukan dalam PSAK No. 1 (Revisi 1998) tentang Penyajian Laporan Keuangan;
Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan159
2. PSAK No. 17 (Revisi 1994) tentang Akuntansi Penyusutan pengaturannya
disatukan dalam PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap;
3. PSAK No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan (1994) pengaturannya
disatukan dalam PSAK No. 19 (Revisi 2000) tentang Aset Tidak Berwujud.
PSAK yang sedang dalam proses revisi
Ikatan Akuntan Indonesia merencanakan untuk konvergensi dengan IFRS mulai
tahun 2012, untuk itu Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) sedang dalam
proses merevisi 3 PSAK berikut (Sumber: Deloitte News Letter, 2007):
• PSAK 22 : Accounting for Business Combination, which is revised by reference to IFRS 3 :
Business Combination;
• PSAK 58 : Discontinued Operations, which is revised by reference to IFRS 5 : Non current
Assets Held for Sale and Discontinued Operations;
• PSAK 48 : Impairment of Assets, which is revised by reference to IAS 36 : Impairment of Assets
Berikut adalah program pengembangan standar akuntansi nasional oleh DSAK
dalam rangka konvergensi dengan IFRS (Sumber: Ikatan Akuntan Indonesia, 2008):
• Pada akhir 2010 diharapkan seluruh IFRS sudah diadopsi dalam PSAK;
• Tahun 2011 merupakan tahun penyiapan seluruh infrastruktur pendukung
untuk implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS;
• Tahun 2012 merupakan tahun implementasi dimana PSAK yang berbasis IFRS
wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki akuntabilitas
publik. Namun IFRS tidak wajib diterapkan oleh perusahaan-perusahaan lokal
yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Pengembangan PSAK untuk UKM
dan kebutuhan spesifik nasional didahulukan.
INTI
1. Standar Akuntansi Keuangan Indonesia perlu mengadopsi IFRS karena kebutuhan akan info keuangan yang bisa diakui secara global untuk dapat bersaing dan menarik investor secara global.
2. Saat ini, adopsi yang dilakukan oleh PSAK Indonesia sifatnya adalah harmonisasi, belum adopsi secara utuh, namun indonesia mencanangkan akan adopsi seutuhnya IFRS pada tahun 2012. Adopsi ini wajib diterapkan terutama bagi perusahaan publik yang bersifat multinasoinal, untuk perusahaan non publik yang bersifat lokal tidak wajib diterapkan.
3 . Perlu dipertimbangkan lebih jauh lagi sifat adopsi apa yang cocok diterapkan di Indonesia, apakah adopsi secara penuh IFRS atau adopsi IFRS yang bersifat harmonisasi yaitu mengadopsi IFRS disesuaikan dengan kondisi ekonomi, politik, dan sistem pemerintahan di Indonesia. Adopsi secara penuh IFRS akan meningkatkan keandalan dan daya banding informasi laporan keuangan secara internasional, namun adopsi seutuhnya akan bertentangan dengan sistem pajak pemerintahan Indonesia atau kondisi ekonomi dan politik lainnya. Hal ini
merupakan rintangan dalam adopsi sepenuhnya IFRS di Indonesia.
4. Untuk mencapai adopsi seutuhnya (full adoption) pada 2012, tantangan terutama dihadapi oleh kalangan akademisi dan perusahaan di Indonesia. Jika ingin full adoption IFRS pada tahun 2012, berarti sebelum tahun 2012 kalangan akademisi khususnya bidang akuntansi harus siap terlebih dahulu terhadap perubahan ini dengan cara melakukan penyesuaian terhadap kurikulum, silabi,
dan literatur. Penyesuaian terhadap perubahan ini memerlukan waktu dan
usaha yang keras, karena penyesuaian terhadap peraturan yang baru
menyangkut banyak aspek dan bukanlah hal yang dapat terjadi dalam waktu
yang singkat. Bagi perusahaan atau organisasi, perubahan dilakukan terutama
oleh perusahaan go publik atau perusahaan multinational yang melakukan
transaksi dan berinteraksi dengan perusahaan lainnya secara international.
5. Adopsi seutuhnya (full adoption) terhadap IFRS, berarti merubah prinsip-prinsip akuntansi yang secara internasional. Hal ini kemungkinan besar tidak akan dapat tercapai dalam waktu dekat, mengingat kendala yang dihadapi antaralain: (1) standar akuntansi sangat berhubungan dengan sistem perpajakan. Sistem perpajakan setiap
negara bervariasi. Jika prinsip akuntansi distandarkan secara internasional, berarti sistem perpajakannya juga harus distandarkan secara internasional, masalahnya mungkinkah ini terjadi? (2) standar akuntansi adalah suatu kebijakan akuntansi yang dibuat berdasarkan kebutuhan politik dan ekonomi suatu negara. Politik dan ekonomi setiap negara bervariasi, sehingga masalah politik dan ekonomi akan selalu menjadi hambatan dalam adopsi IFRS secara utuh dalam suatu negara.
Daftar Pustaka
http://lemlit.unila.ac.id/file/arsip%202010./JAK/JAk%20Juli%202009.pdf
Selasa, 01 Maret 2011
AKUNTANSI RESTRUKTURISASI ENTITAS SEPENGENDALI PSAK NO. 38
statusnya: Belum diputuskan (not diceded) pada 31 Maret 2010
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejumlah entitas usaha di Indonesia memiliki karakteristik pemilikan mayoritas dan atau pengendalian oleh pihak yang sama, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Entitas usaha yang memiliki karakteristik seperti ini disebut entitas sepengendali. Dalam transaksi restrukturisasi entitas sepengendali tidak terjadi perubahan substansi ekonomi pemilikan, walaupun bentuk hukum (legal form) pemilikan saham atau aktiva atau kewajiban atau instrumen kepemilikan lainnya berubah.
1.2. Tujuan
Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi transaksi restrukturisasi entitas sepengendali (under common control), yang tidak dicakup oleh PSAK 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha.
1.3. Ruang Lingkup
1.3.1. Pernyataan ini diterapkan dalam akuntansi transaksi restrukturisasi sehubungan dengan pengalihan aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya antara entitas sepengendali.
1.3.2. Pernyataan ini tidak mengatur transaksi penggabungan usaha antara entitas yang tidak sepengendali atau entitas yang tidak berada di bawah pengendalian yang sama. Transaksi penggabungan usaha tersebut diatur dalam PSAK 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha
ISI
2.1. Definisi
Pengendalian (control) adalah kekuasaan (power) untuk menentukan kebijakan keuangan dan operasi suatu badan usaha agar dapat menikmati manfaat dari kegiatan perusahaan tersebut. satu atau lebih anak perusahaan. Anak perusahaan (Subsidiaries) adalah perusahaan yang dikendalikan oleh perusahaan lain (yang dikenal sebagai induk perusahaan), baik melalui pemilikan mayoritas atau cara lain. Kelompok (Group) perusahaan adalah kumpulan antara induk perusahaan dan seluruh anak perusahaannya. Kepemilikan minoritas (Minority interest) adalah bagian hasil usaha dan bagian aktiva bersih anak perusahaan, yang tidak dimiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui anak perusahaan), oleh induk perusahaan. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction).
Tanggal Restrukturisasi adalah tanggal pada saat kendali atas aktiva bersih dan operasi perusahaan yang diakuisisi secara efektif beralih ke perusahaan pengakuisisi. Entitas sepengendali (Under common control) adalah pihak (perorangan, perusahaan, atau bentuk entitas lainnya) yang secara langsung atau tidak langsung (melalui satu atau lebih perantara), mengendalikan atau dikendalikan oleh atau berada di bawah pengendalian yang sama. Transaksi Restrukturisasi entitas sepengendali (restructuring transactions among under common control companies) merupakan transaksi pengalihan aktiva, kewajiban, saham atau bentuk instrumen kepemilikan lainnya antara pihak-pihak (perorangan, perusahaan atau bentuk entitas lainnya) yang, secara langsung atau tidak langsung (melalui satu atau lebih perantara), mengendalikan atau dikendalikan oleh atau berada di bawah pengendalian yang sama.
2.2. Kriteria Terdapatnya Pengendalian
2.2.1. Pengendalian dianggap ada apabila pihak pengendali (induk perusahaan) memiliki lebih dari 50% hak suara pada suatu perusahaan terkendali (anak perusahaan), baik secara langsung atau tidak langsung (melalui anak perusahaan lain).
2.2.2. Walaupun suatu perusahaan memiliki hak suara 50% atau kurang, pengendalian tetap dianggap ada apabila dapat dibuktikan adanya salah satu kondisi berikut: mempunyai hak suara lebih dari 50% berdasarkan perjanjian dengan investor lain; mempunyai hak untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi perusahaan lain tersebut berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian; kekuasaan untuk mengangkat dan memberhentikan sebagian besar anggota pengurus perusahaan yang lain tersebut; mampu menguasai suara mayoritas dalam rapat pengurus. Sifat Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali
2.2.3. Transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali, berupa pengalihan aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang dilakukan dalam rangka reorganisasi entitasentitas yang berada dalam suatu kelompok usaha yang sama, bukan merupakan perubahan pemilikan dalam arti substansi ekonomi, sehingga transaksi demikian tidak dapat menimbulkan laba atau rugi bagi seluruh kelompok perusahaanataupun bagi entitas individual dalam kelompok perusahaan tersebut.
2.3. Contoh-contoh transaksi antara entitas sepengendali
a. Suatu induk perusahaan memindahkan sebagian aktiva bersih dari anak perusahaan yang dimiliki induk perusahaan tersebut menjadi aktiva induk perusahaan yang bersangkutan. Transaksi ini menyebabkan perubahan dalam bentuk hukum (legal form) pemilikan atas aktiva bersih tersebut, tetapi tidak menyebabkan perubahan substansi ekonomi (economic substance) pemilikan aktiva bersih tersebut.
b. lnduk perusahaan mengalihkan sebagian hak pemilikannya dalam suatu anak perusahaan ke anak perusahaan lainnya yang dimiliki oleh induk perusahaan. Transaksi ini juga merupakan perubahan bentuk hukum pemilikan anak perusahaan, tetapi tidak merupakan perubahan substansi ekonomi pemilikan anak perusahaan tersebut.
c. Suatu induk perusahaan menukar pemilikannya atas sebagian aktiva bersih dalam anak perusahaan yang dimiliki induk perusahaan tersebut dengan saham tambahan yang diterbitkan oleh anak perusahaan lainnya (yang tidak dimiliki 100%), sehingga pemilikan induk perusahaan dalam anak perusahaan lainnya tersebut bertambah, sedangkan persentase kepemilikan pemegang saham minoritas dalam anak perusahaan tersebut berkurang. Dalam hal ini, walaupun bentuk hukum pemilikan aktiva bersih dalam anak perusahaan berubah (dari milik langsung induk perusahaan menjadi milik anak perusahaan lainnya), tetapi tidak terjadi perubahan substansi ekonomi kepemilikan atas aktiva bersih tersebut.
2.4. Pihak tidak sepengendali diperlakukan sebagai entitas
sepengendali apabila dalam jangka waktu dua puluh empat bulan atau kurang:
a. Pihak tidak sepengendali tersebut pernah berada di bawah pengendalian yang sama, atau
b. Aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang dialihkan pernah dimiliki entitas sepengendali.
Transaksi pembelian saham atau aktiva bersih milik pemegang saham minoritas (yang tidak berada dalam pengendalian yang sama dengan pemegang saham mayoritas) merupakan transaksi yang mencakup perubahan substansi ekonomi pemilikan dari pemegang saham minoritas ke pemegang saham mayoritas, oleh karena itu transaksi ini bukan merupakan transaksi restrukturisasi entitas sepengendali.
Karena transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali tidak mengakibatkan perubahan substansi ekonomi pemilikan atas aktiva, saham, kewajiban atau instrument kepemilikan lainnya yang dipertukarkan, maka aktiva maupun kewajiban yang pemilikannya dialihkan (dalam bentuk hukumnya) harus dicatat sesuai dengan nilai buku seperti penggabungan usaha berdasarkan metode penyatuan kepemilikan (pooling of interest).
Dalam menerapkan metode penyatuan kepemilikan, unsur-unsur laporan keuangan dari perusahaan yang direstrukturisasi untuk periode terjadinya restrukturisasi tersebut dan untuk periode perbandingan yang disajikan, harus disajikan sedemikian rupa seolaholah perusahaan tersebut telah bergabung sejak permulaan periode yang disajikan tersebut. Laporan keuangan suatu perusahaan tidak boleh memasukkan adanya penyatuan kepemilikan walaupun perusahaan tersebut adalah salah satu pihak yang bergabung, apabila penyatuan kepemilikan terjadi pada suatu tanggal setelah tanggal neraca terakhir disajikan.
2.5. Selisih antara Harga Pengalihan dan Nilai Buku
1. Selisih antara harga pengalihan dengan nilai buku setiap transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali dibukukan dalam akun Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali. Saldo akun tersebut selanjutnya disajikan sebagai unsur Ekuitas.
2. Selisih harga pengalihan dengan nilai sehubungan dengan transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali bukan merupakan goodwill.
3.Saldo akun Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Antara Entitas Sepengendali tidak berubah akibat pengalihan lebih lanjut aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya tersebut kepada entitas lain yang tidak sepengendali.
2.6. keuangan pada periode terjadinya restrukturisasi
a. jenis, nilai buku dan harga pengalihan aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang dialihkan
b. tanggal transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali
c. nama entitas terkait
d. metode akuntansi yang digunakan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 38 Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali.Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 38 ini terdiri dari Paragraf 15-24. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks Paragraf 01-14.
Sifat Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali . Transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali, berupa pengalihan aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan
lainnya yang dilakukan dalam rangka reorganisasi entitasentitas yang berada dalam suatu kelompok usaha yang sama, bukan merupakan perubahan pemilikan dalam arti substansi ekonomi, sehingga transaksi demikian tidak dapat menimbulkan laba atau rugi bagi seluruh kelompok perusahaan ataupun bagi entitas individual dalam kelompok perusahaan tersebut. Pihak tidak sepengendali diperlakukan sebagai entitas sepengendali apabila dalam jangka waktu dua puluh empat bulan atau kurang. Pihak tidak sepengendali tersebut pernah berada di bawah pengendalian yang sama, atau Aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang dialihkan pernah dimiliki entitas sepengendali. Transaksi pembelian saham atau aktiva bersih milik pemegang saham minoritas (yang tidak berada dalam pengendalian
yang sama dengan pemegang saham mayoritas) merupakan transaksi yang mencakup perubahan substansi ekonomi pemilikan dari pemegang saham minoritas ke pemegang saham mayoritas, oleh karena itu transaksi ini bukan merupakan transaksi restrukturisasi entitas sepengendali. Karena transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali tidak mengakibatkan perubahan substansi ekonomi pemilikan atas aktiva, saham, kewajiban atau instrumen kepemilikan lainnya yang dipertukarkan, maka aktiva maupun kewajiban yang pemilikannya dialihkan (dalam bentuk hukumnya) harus dicatat sesuai dengan nilai buku seperti penggabungan usaha berdasarkan metode penyatuan kepemilikan (pooling of interest).
Dalam menerapkan metode penyatuan kepemilikan, unsur-unsur laporan keuangan dari perusahaan yang direstrukturisasi untuk periode terjadinya restrukturisasi tersebut dan untuk periode perbandingan yang disajikan, harus disajikan sedemikian rupa seolaholah perusahaan tersebut telah bergabung sejak permulaan periode yang disajikan tersebut. Laporan Keuangan suatu perusahaan tidak boleh memasukkan adanya penyatuan kepemilikan walaupun perusahaan tersebut adalah salah satu pihak yang bergabung, apabila penyatuan kepemilikan terjadi pada suatu tanggal setelah tanggal neraca terakhir disajikan.
2.7. Pengungkapan
Untuk semua transaksi restrukturisasi entitas sepengendali, pengungkapan berikut harus dibuat dalam laporan keuangan pada periode terjadinya restrukturisasi:
a. jenis, nilai buku dan harga pengalihan aktiva, kewajiban, saham atau instrumen kepemilikan lainnya yang dialihkan
b. tanggal transaksi restrukturisasi antara entitas sepengendali
c. nama entitas terkait
d. metode akuntansi yang digunakan.
2.8. Masa Transisi
Jika penerapan Pernyataan ini mengakibatkan perubahan kebijakan akuntansi, perubahan tersebut dilaporkan secara prospektif. Tanggal Efektif pernyataan ini berlaku untuk transaksi restrukturisasi yang terjadi sejak tanggal 1 Oktober 1997. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.
Konvergensi IFRS dari PSAK 38
Indonesia akan mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012 nanti,. Dengan mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Namun, perubahan tersebut tentu saja akan memberikan efek di berbagai bidang, terutama dari segi pendidikan dan bisnis.
DAMPAK KONVERGENSI IFRS TERHADAP PENDIDIKAN
Dampak konvergensi IFRS untuk bidang pendidikan antara lain :
1. Perubahan mind stream dari rule-based ke principle-based
2. Banyak menggunakan professional judgement
3. Banyak menggunakan fair value accounting
4. IFRS selalu berubah dan konsep yang digunakan dalam suatu IFRS dapat berbeda dengan IFRS lain
5. Semakin meningkatnya ketergantungan ke profesi lain.
6. Perubahan text-book dari US GAPP ke IFRS.
DAMPAK KONVERGENSI IFRS TERHADAP BISNIS
Selain dampak terhadap dunia pendidikan IFRS juga menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap dunia bisnis. Berikut ini adalah berbagai dampak yang ditimbulkan dari program konvergensi IFRS yang disampaikan dalam seminar setengah hari IAI dengan topik "Dampak konvergensi IFRS terhadap Bisnis" yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 2009 kemarin :
1. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global
2. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar.
3. Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harg fluktuatif.
4. Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet approach dan fair value
5. principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management)
6. Penggunaan off balance sheet semakin terbatas
IFRS (International Financial Reporting Standard) merupakan pedoman penyusunan laporaan keuangan yang diterima secara global. Sejarah terbentuknya pun cukup panjang dari terbentuknya IASC/ IAFC, IASB, hingga menjadi IFRS seperti sekarang ini. Jika sebuah negara menggunakan IFRS, berarti negara tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan keuangan yang berlaku secara global sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti tentang laporan keuangan perusahaan di negara tersebut berasal.
Indonesia pun akan mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012 nanti, seperti yang dilansir IAI pada peringatan HUT nya yang ke – 51. Dengan mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Adopsi penuh IFRS diharapkan memberikan manfaat :
1. memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK yang dikenal
secara internasional
2. meningkatkan arus investasi global
3. menurunkan biaya modal melalui pasar modal global dan menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan
Strategi adopsi yang dilakukan untuk konvergensi ada dua macam, yaitu big bang strategy dan gradual strategy. Big bang strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan – tahapan tertentu. Strategi ini digunakan oleh negara – negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara – negara berkembang seperti Indonesia.
PSAK akan dikonvergensikan secara penuh dengan IFRS melalui tiga tahapan, yaitu tahap adopsi, tahap persiapan akhir dan tahap implementasi.
Tahap adopsi dilakukan pada periode 2008-2011 meliputi aktivitas adopsi seluruh IFRS ke PSAK, persiapan infrastruktur, evaluasi terhadap PSAK yang berlaku. Pada 2009 proses adopsi IFRS/ IAS mencakup :
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IFRS 3 Business combination
3. IFRS 4 Insurance contracts
4. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
5. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
6. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
7. IFRS 8 Segment reporting
8. IAS 1 Presentation of financial statements
9. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates
10. IAS 12 Income taxes
11. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
12. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
13. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
14. IAS 28 Investments in associates
15. IAS 31 Interests in joint ventures
16. IAS 36 Impairment of assets
17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
18. IAS 38 Intangible assets
Pada 2010 adopsi IFRS/ IAS mencakup :
1. IFRS 7 Statement of Cash Flows
2. IFRS20 Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance
3. IFRS24 Related Party Disclosures
4. IFRS29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies
5. IFRS33 Earnings per Share
6. IFRS34 Interim Financial Reporting
7. IFRS41 Agriculture
Sedangkan arah pengembangan konvergensi IFRS meliputi :
1. PSAK yang sama dengan IFRS akan direvisi, atau akan diterbitkan PSAK yang baru
2. PSAK yang tidak diatur dalam IFRS, maka akan dikembangkan
3. PSAK industri khusus akan dihapuskan
4. PSAK turunan dari UU tetap dipertahankan
Pada 2011 tahap persiapan akhir dilakukan dengan menyelesaikan seluruh infrastruktur yang diperlukan. Pada 2012 dilakukan penerapan pertama kali PSAK yang sudah mengadopsi IFRS. Namun, proses konvergensi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dampak yang ditimbulkan dari konvergensi ini akan sangat mempengaruhi semua kalangan, baik itu bidang bisnis maupun pendidikan.
Daftar Pustaka
Wirahadja, Roy Iman, (2010), Adopsi IAS 41 dalam Rangkaian Konvergensi IFRS di Indonesia, Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia
http://www.russellbedford.co.id/downloads/resources/32399_PSAK%2038%20Akuntansi%20Restrukturisasi%20Entitas%20Sepengendali.pdf
Sabtu, 01 Januari 2011
Contoh tindakan dari benturan kepentingan antara perusahaan & karyawan minimal 4 dari 8 kategori situasi yang ada:
Contoh: anggota atau karyawan yang bertanggung jawab memberikan jasa kepada masyarakat, tetapi anggota tersebut tidak bisa memberikan jasa yang sesuai dengan apa yang diinginkan masyarakat. Tindakan yang dilakukan perusahaan sebaiknya memberikan waktu kepada karyawan untuk memperbaiki tanggungjawabnya dan menjelaskan semua kesalahan dan kekurangan karyawan kepada masyarakat sehingga masyarakat lebih menerima kesalahan tersebut. Tetapi jika karyawan lebih dari sekali melakukan kesalahanya,harus ada tindakan yang lebih tegas dari perusahaan,seperti mengeluarkan dia sebagai karyawan dari perusahaan tersebut.
2. Prinsip keempat Obyektivitas
Anggota memberikan nilai atas jasa yang diberikan harus sesuai dengan prinsip objektivitas yaitu adil,tidak memihak,jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh orang lain. Segala hubungan bisnis atas nama perusahaan dengan personal yang masih ada hubungan keluarga (family), atau dengan perusahaan yang dikontrol oleh personal tersebut. Contohnya seorang manajer yang mempekerjakan saudaranya di perusahaan, tindakan yang dilakukan sebaiknya perusahaan melakukan tindakan tegas bahwa tidak boleh ada hubungan keluarga antara karyawan dalam perusahaan.
3. Prinsip Keenam Kerahasiaan
Setiap karyawan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa professional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan. Contoh ada pihak lain yang ingin mengetahui tentang informasi klien atau pemberi kerja, sebagai anggota atau karyawan mempunyai kewajiban untuk menghargai tentang kerahasiaan informasi klien tersebut, jangan sampai informasi jatuh ke tangan atau pihak yang tidak berkepentingan.
4. Prinsip Kedelapan Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar professional yang relevan.Anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerimaan jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Segala penjualan pada atau pembelian dari perusahaan yang menguntungkan pribadi. Contoh jika anggota tidak mentaati standar yang dikeluarkan oleh ikatan Akuntan Indonesia. Tindakan perusahaan adalah berhak mengeluarkan anggota tersebut dari perusahaan.
Rabu, 01 Desember 2010
Tugas Etika Profesi Akuntansi
Jawab :
Perusahaan yang bermoral harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Moral menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Moral juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan. Singkatnya, ruang lingkup Moral bisnis itu universal.
Bisnis yang bermoral adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh. Moral adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak punya rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang bermoral.
2. Sebutkan contoh dari hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan etika bisnis, minimal 3!
Jawab :
Pengembangan tanggung jawab social : Pelaku bisnis dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk uang dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi.
Contoh : Pelaku bisnis harus tanggung jawab terhadap masalah yang timbul dalam bisnis dibidang social.
Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”, contohnya: Seorang Pengusaha tidak boleh menebang hutan atau membuang limbah pabik ke laut demi kepentingan perusahaan.
Mampu menyatakan yang benar itu benar. Contohnya: Seorang pelaku bisnis jangan melakukan kongkalingkong dengan data yang salah.Seorang pelaku bisnis harus jujur.
3. Jelaskan dan berikan contoh dari 4 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh sebuah profesi!
Jawab :
Kredibilitas : Bahwa masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi yang dimiliki sebuah profesi. Contoh :Seorang karyawan dalam menjalankan tugasnya harus dapat dipercaya oleh atasanya, jika dia dipercaya oleh atasanya maka jabatan dia akan dinaikkan.
Profesionalisme : Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.contoh : Seorang dokter harus bersifat professional dalam menjalankan profesinya, tidak boleh membeda-bedakan pasien yang ingin berobat.
Kualitas Jasa : Adanya keyakinan bahwa semua pelayanan yang diberikan pelaku sebuah profesi memenuhi standar kinerja yang tinggi. Contoh :dalam melakukan suatu usaha atau bisnis dapat menghasilkan barang atau jasa yang berkualitas baik, agar konsumen tertarik dan terus menggunakan barang atau jasa yang kita bisniskan.
Kepercayaan : Pemakai jasa harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika professional yang melandasi pemberian jasa. Contoh : dalam menjalankan profesi harus memiliki kepercayaan kepada semua orang.
Senin, 29 Maret 2010
MASALAH PENELITIAN PI dan ALASANYA
20207179
3EB01
TUGAS RISET AKUNTANSI SOFTSKILL
MASALAH PENELITIAN PI dan ALASANYA
MASALAH PENELITIAN:
Dunia usaha yang semakin kompetitif menuntut perusahaan untuk mampu beradaptasi agar terhindar dari kebangkrutan dan unggul dalam persaingan. Untuk mengantisipasi persaingan tersebut, perusahaan harus mempertahankan dan meningkatkan kinerja untuk menjaga kelangsungan usahanya. Salah satu faktor yang mempengaruhi kebangkrutan perusahaan adalah krisis global yang melanda dunia.
Krisis global sedikitnya berimbas pada perekonomian Indonesia. Dampak yang menonjol terlihat pada perusahaan-perusahaan yang mulai mengalami banyak masalah keuangan. Salah satu diantara sekian banyak masalah keuangan yang dihadapi oleh suatu perusahaan adalah masalah pembiayaan perusahaan. Untuk membiayai kebutuhan dana suatu perusahaan dapat berasal dari dua sumber, yaitu sumber dana intern dan sumber dana ekstern. Sumber dana intern perusahaan bersumber dari modal yang dibentuk atau dihasilkan sendiri dalam perusahaan, misalnya modal yang berasal dari laba yang tidak dibagikan atau biasa disebut laba ditahan. Sedangkan sumber dana ekstern bersumber dari modal tambahan dari pemilik atau emisi saham baru, modal pinjaman (hutang), dan penjualan obligasi.
Perusahaan akan selalu mencari peluang untuk dapat mengembangkan usahanya atau bertahan dalam berbagai macam situasi ekonomi. Untuk memperoleh peluang tersebut perusahaan perlu memperhatikan seluruh aspek dalam ekonomi termasuk faktor internal dan eksternal perusahaan, yaitu kondisi keuangan perusahaan dan kondisi ekonomi global, sehingga dapat dicapai tujuan perusahaan dengan risiko minimal.
Permodalan merupakan salah satu aspek penentu kesehatan suatu perusahaan. Apabila perusahaan menggunakan modal pinjaman, berarti perusahaan telah melakukan leverage. Financial leverage dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menggunakan sumber dana pinjaman yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar tingkat penghasilan bagi pemegang saham.
Investor yang melakukan penanaman modal dalam bentuk saham diharapkan melihat kecenderungan perkembangan harga saham dan besarnya volume perdagangan saham di bursa efek, sebagai salah satu indikator yang penting guna mempelajari kinerja suatu perusahaan. Alternatif lainnya adalah investor mendasarkan keputusan investasinya pada berbagai informasi yang dimilikinya, salah satunya berupa informasi akuntansi. Informasi akuntansi yang dimaksud adalah Laporan Keuangan..
Dalam financial leverage penggunaan sumber dana tetap yang memiliki beban tetap seperti hutang jangka panjang dan modal saham dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham.
Semakin banyak penggunaan modal pinjaman, akan semakin besar risiko tidak terbayarnya pinjaman. Walaupun modal pinjaman menimbulkan resiko bagi perusahaan, namun dapat meningkatkan Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS). Tingkat ROI, ROE dan EPS yang semakin meningkat akan meningkatkan pula kepercayaan pemegang saham bahwa kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba meningkat.
Penggunaan leverage dikatakan menguntungkan apabila pendapatan dari investasi lebih besar daripada beban tetap yang harus ditanggung oleh perusahaan. Sebaliknya, penggunaan leverage dikatakan merugikan apabila pendapatan yang diterima dari hasil investasi lebih kecil daripada beban tetap yang harus ditanggung oleh perusahaan.
Maka dari masalah penelitian tersebut, maka ALASANNYA adalah:
1. Untuk mengetahui hubungan financial leverage dengan Return On Investment (ROI) pada PT HERO SUPERMARKET, Tbk.
2. Untuk mengetahui hubungan financial leverage dengan Return On Equity (ROE) pada PT HERO SUPERMARKET, Tbk.
3. Untuk mengetahui hubungan financial leverage dengan Earning Per Share (EPS) pada PT HERO SUPERMARKET, Tbk
Alasan saya mengambil judul Penulisan Ilmiah ANALISIS HUBUNGAN FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP rasio Profitabilitas…
Saya ingin mencari tau hubungan apa yang terdapat atau diperoleh dengan menggunakan variable (Y) yaitu Return On Investment, Return On Equity, dan Earning Per Share pada PT HERO SUPERMARKET apakah hasilnya negating atau positif dan apakah mempengaruhi pada Financial Leverege variable (X) atau tidak. Sehingga akan diketahui keputusan apa yang harus diambil oleh perusahaan untuk tetap mempertahankan kelangsungan perusahaan dan meningkatkan investasi,dan saham untuk investor .
Penelitian ini termasuk ke dalam masalah penelitian Reasearch gap, karena berhubungan dengan perencanaan kinerja perusahaan.
Senin, 15 Maret 2010
BIOGRAFI FILSAFAT EKONOMI IRVING FISHER
TUGAS RISET AKUNTANSI
ATIK GUSTINI
20207179
3EB01
Fisher dilahirkan di negara bagian New York pada tahun 1867. Ia belajar sains dan filsafat di Yale.. Di sini ia memiliki berbagai kepentingan. Sebagai contoh, ia menerbitkan puisi dan bekerja pada astronomi, mekanik, dan geometri. Terlepas dari semua kepentingan ini, Fisher paling tertarik pada matematika dan ekonomi. Pada saat itu, Yale tidak mempunyai Departemen Ekonomi. Terlepas, Fisher dilanjutkan dengan kepentingan dan mendapat gelar Ph.D. pertama in economics ever awarded by Yale. ekonomi yang pernah diberikan oleh Yale. Oleh karena itu Fisher tinggal di Yale untuk seluruh karier.
Fisher memiliki banyak kepentingan. Karena berkembang dan bertahan TBC di awal 30-an Fisher memiliki minat besar di bidang kesehatan dan kebersihan. Dia menulis best seller nasional berjudul How to Live: Aturan untuk Hidup Sehat Berdasarkan Modern Science. Fisher juga adalah seorang penemu. Perusahaannya bergabung dengan yang lain untuk membentuk Remington Rand, yang kemudian dikenal sebagai Sperry Rand. Merger ini membuat pria yang sangat kaya. Namun, ia kehilangan banyak kekayaan ini di pasar saham crash pada tahun 1929. Selama hidupnya Fisher juga berkampanye untuk Larangan, perdamaian, dan egenetika. Fisher died in New York April 29, 1947. Fisher meninggal di New York April 29, 1947.
Fisher adalah ekonom matematika. Namun, tidak seperti banyak akademisi ia juga penulis yang sangat jelas. Jadi, ia menjadi Fisher adalah pendiri atau presiden kedua Econometric Society dan American Economic Association. Meskipun ia rusak reputasinya dengan bersikeras selama masa Depresi Hebat pemulihan yang sudah dekat.
Irving Fisher adalah salah satu matematika terbesar Amerika ekonom dan salah satu penulis ekonomi paling jelas sepanjang masa. Dia memiliki kecerdasan untuk menggunakan matematika dalam hampir semua teori dan pengertian yang baik untuk memperkenalkan hanya setelah ia jelas menjelaskan prinsip-prinsip sentral dalam kata-kata. Dan dia menjelaskan dengan sangat baik. Teori Fisher Menarik ditulis dengan jelas bahwa mahasiswa pascasarjana ekonomi, yang masih belajar hari ini, sering menemukan bahwa mereka bisa membaca-dan mengerti-setengah buku dalam satu duduk. Dengan tulisan-tulisan lain dalam ekonomi teknis, ini tidak pernah terjadi.
Meskipun ia rusak reputasinya dengan bersikeras selama masa Depresi Hebat pemulihan yang sudah dekat, model-model ekonomi kontemporer minat dan modal didasarkan pada prinsip-prinsip Fisherian. Demikian pula, monetarisme didasarkan pada prinsip-prinsip Fisher uang dan harga.
Seperti banyak Klasik ekonom, Fisher memiliki latar belakang yang bervariasi. Ia dilahirkan di New York State pada tahun 1867 dan spesialisasi pertama adalah matematika. Dia lulus dari Yale dengan gelar BA dalam bidang matematika, tapi kemudian ia berpaling kepada ekonomi, memperoleh gelar PhD, dan sangat berpengaruh dalam berbagai bidang. Satu daerah tertentu adalah angka indeks pembangunan - matematika teknik yang sangat berharga dalam ilmu ekonomi. Angka indeks yang kita gunakan saat ini termasuk indeks FTSE untuk mengukur nilai-nilai berbagi dan RPI untuk mengukur inflasi.
Ia juga menulis tentang dan berkampanye untuk perdamaian dunia, sehat dan gaya hidup sehat dan sering dianggap oleh para koleganya sebagai sesuatu yang eksentrik. Pengaruhnya memudar menjelang akhir kariernya, tapi ia meninggalkan warisan teori yang masih sangat penting bagi kami. Banyak Klasik dan teori monetaris inflasi didasarkan pada-Nya (Fisher) Persamaan Exchange.Ekonom Amerika Irving Fisher (1867-1947) membuat kontribusi penting dan orisinal di bidang ekonomi, matematika, statistik, demografi, kesehatan masyarakat dan sanitasi, dan urusan publik.
Maka hampir tidak mungkin untuk berlaku adil terhadap Fisher banyak kontribusi ekonomi dan statistik, namun tulisan-tulisannya tentang teori dan kebijakan moneter dan angka indeks telah memperoleh pengakuan khusus. Dia dibawa ke tulisannya yang kejernihan, ketepatan analitis, dan kekakuan dari matematikawan yang dicapai.
Karya-karya IRVING FISHER:
1. Dalam The Purchasing Power of Money (1911) Fisher sepenuhnya merombak teori uang ke dalam kuantitas-teori klasik-of-uang persamaan MV + M'V '= PQ, yang membuat daya beli uang (atau kebalikannya, umum tingkat harga P) sepenuhnya ditentukan oleh persediaan uang beredar M, dengan kecepatan sirkulasi V, volume deposito bank M ', mereka sirkulasi kecepatan V', dan total volume transaksi Q.
2. Fisher teorinya diterjemahkan ke dalam kebijakan resep "100 persen uang" (semua deposito bank harus didukung oleh cadangan 100 persen daripada pecahan cadangan, yang digunakan kemudian dan sekarang oleh hampir semua sistem perbankan) atas dasar bahwa kebijakan seperti akan mengendalikan besar siklus bisnis. Dia menghabiskan sebagian besar kekayaan pribadinya mempromosikan (gagal) kebijakan.
3. Dalam teori suku bunga didasarkan pada suplai tabungan dan permintaan untuk modal seperti yang ditentukan oleh masa kini dan prospek masa depan peluang investasi.
4. Dia juga membedakan antara nominal dan tingkat bunga riil dan mengembangkan konsep positif, negatif, dan netral preferensi waktu. Teori Fisher mengantisipasi kemudian karya-karya anggota sekolah Cambridge.
5. Nelayan membuat kontribusi yang signifikan dan asli dalam teori statistik, ekonometri, dan nomor indeks teori. The Making of Index Angka (1922) menjadi referensi standar pada subjek. Setelah metodis dan analisis kuantitatif dari berbagai nomor indeks formulasi, ia mengembangkan "ideal" index, geometrik mean dari Laspeyre Paasche dan indeks. Ia menganggap rumusan ini "ideal" karena bertemu dengan "waktu pembalikan" dan "faktor pembalikan" tes.
6. Dikatakan dari kontribusi Fisher ekonomi dan statistik yang ia membangun kolom dan lengkungan besar tetapi ia tidak pernah menyelesaikan bangunan intelektual yang dapat ditunjuk Fisher Fisher teori atau sistem ekonomi. Dapat juga dikatakan bahwa ia meletakkan dasar-dasar kuat yang lain membangun bangunan-bangunan mereka.
Sumber:
Encyclopedia of World Biografi di Irving Fisher
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.bookrags.com/bi
Sabtu, 20 Februari 2010
Atik Gustini - Adopsi IFRS untuk Daya Saing di Masa Depan - Apakah Kita Siap?
>>
Adopsi IFRS untuk Daya Saing di Masa Depan
oleh : Neviana
Akuntansi merupakan satu-satunya bahasa bisnis utama di pasar modal. Tanpa standar akuntansi yang baik, pasar modal tidak akan pernah berjalan dengan baik pula karena laporan keuangan merupakan produk utama dalam mekanisme pasar modal. Efektivitas dan ketepatan waktu dari informasi keuangan yang transparan yang dapat dibandingkan dan relevan dibutuhkan oleh semua stakeholder (pekerja, suppliers, customers, institusi penyedia kredit, bahkan pemerintah). Para stakeholder ini bukan sekadar ingin mengetahui informasi keuangan dari satu perusahaan saja, melainkan dari banyak perusahaan (jika bisa, mungkin dari semua perusahaan) dari seluruh belahan dunia untuk diperbandingkan satu dengan lainnya.
Pertanyaannya, bagaimana kebutuhan ini dapat terpenuhi jika perusahaan-perusahaan masih menggunakan bentuk dan prinsip pelaporan keuangan yang berbeda-beda? International Accounting Standards, yang lebih dikenal sebagai International Financial Reporting Standards (IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi berkualitas tinggi dan kerangka akuntasi berbasiskan prinsip yang meliputi penilaian profesional yang kuat dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu, dan akuntansi terkait transaksi tersebut. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai belahan dunia.... read more
Adopsi IFRS dan perubahaan dari GAAP ke IFRS is now a global phenomenon that is rapidly gathering pace.
IFRS adalah sebuah “System Pengukuran Kinerja Baru”, a new primary GAAP yang harus di umumkan kepada semua pihak di perusahaan (organisasi). Beralih ke IFRS artinya kita akan atau sedang “pola pikir pegawai accounting/keuangan dan bagian lain di perusahaan dalam bekerja. Dan menurut, PricewaterhouseCoopers dalam publikasinya “Making A change To IFRS”, ini membutuhkan “decesive shift” dalam “strategic management” perusahaan (organisasi).
PricewaterhouseCoopers:
"Transition often affects many areas, including:
[-]. Product viability
[-]. Capital Instruments
[-]. Derivatives and hedging
[-]. Employee benefits
The list goes on: fair valuations, capital allocation, leasing, segment reporting, revenue recognition, impairment reviews, deferred taxation, cash flows, disclosures, borrowing arrangements and banking covenants".
Maksudnya adalah: beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka di laporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua element di dalam perusahaan.
Seperti yang tertera di atas bahwa di dunia internasional, IFRS telah diadopsi oleh banyak negara, termasuk negara-negara Uni Eropa, Afrika, Asia, Amerika Latin dan Australia. Di kawasan Asia, Hong Kong, Filipina dan Singapura pun telah mengadopsinya. Sejak 2008, diperkirakan sekitar 80 negara mengharuskan perusahaan yang telah terdaftar dalam bursa efek global menerapkan IFRS dalam mempersiapkan dan mempresentasikan laporan keuangannya. Nah, pertanyaan pertama, "Bagaimana dengan Indonesia, apakah kita akan beralih ke IFRS atau tetap pada GAAP?"
Bagi pelaku bisnis pada umumnya, pertanyaan dan tantangan tradisionalnya: apakah implementasi IFRS membutuhkan biaya yang besar? Belum apa-apa, beberapa pihak sudah mengeluhkan besarnya investasi di bidang sistem informasi dan teknologi informasi yang harus dipikul perusahaan untuk mengikuti persyaratan yang diharuskan. Terlihat bahwa Indonesia masih ragu untuk mengadopsi IFRS. Padahal mengadopsi IFRS merupakan syarat mutlak untuk meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia di masa depan dan saya setuju bila Indonesia benar-benar mengadopsinya, apalagi di era perdagangan bebas saat ini warga negara Indonesia harus mempunyai bekal yang cukup untuk dapat bersaing dengan yang lainnya. Untuk mengadopsi ifrs memang dibutuhkan biaya yang cukup besar dan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan perubahan ini tetapi ini demi kebaikan bersama untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Karena IFRS dimaksudkan sebagai standar akuntansi tunggal global, kesiapan industri akuntansi Indonesia untuk mengadopsi IFRS akan menjadi daya saing di tingkat global. Inilah keuntungan dari mengadopsi IFRS.
Bagi pengusaha pada umumnya, yang menjadi bahan pertimbangan kedua apakah akan beralih ke IFRS atau tidak adalah “Apakah implementasi IFRS akan menghasilan incremental benefit atau tidak?”. Tetapi bagi perusahaan-perusahaan yang sudah go international, atau yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia dan Russia dan beberapa Middle East countries, tentu sudah tidak punya pilihan lain selain “mau tidak mau harus mulai berusaha menerapkan IFRS” dalam pelaporan keuangannya jika masih mau berpartner dengan mereka. Dan ternyata sudah ada perusahaan yang mensyaratkan “IFRS capability”.
ih Wow! Kalau begitu, jadi muncul pertanyaan kedua.
The next questions are:
"Apakah calon-calon “accountancy bachelor degree” di Indonesia (termasuk saya) yang akan graduate setiap tahun, yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan ribu per tahun ini harus mengikuti jejak pendahulunya, yaitu harus berusaha keras compliance dengan IFRS setelah bekerja?"
Mengapa saya katakan "setelah bekerja?"
Alasannya adalah karena mengubah kurikulum akuntansi itu bukanlah pekerjaan yang bisa disamakan dengan seperti membalik telapak tangan. Coba deh kita pikirkan, apakah para guru besar akuntansi yang sebentar lagi akan memasuki masa retired (pensiun) bersedia menunda masa pensiunnya hingga universitas siap sepenuhnya dengan IFRS? Kalau saya diposisi mereka, saya lebih memilih untuk segera pensiun. HAHAHAHAHA...
Mau tidak mau kita (saya) harus dengan giat, berusaha keras untuk mengumpulan informasi, atau mengikuti seminar atau kursus, termasuk membeli buku IFRS mungkin. Tidak ada cara lain, karena memang itulah satu-satunya jalan keluar saat ini untuk cepat bisa memahami dan menguasai ketentuan IFRS.
referensi:
http://swa.co.id/2010/01/adopsi-ifrs-untuk-daya-saing-di-masa-depan/
http://putra-finance-accounting-taxation.blogspot.com/2008/06/apakah-kita-siap-adopsi-ifrs.html
Rabu, 16 Desember 2009
Exercice - Vocabulary
Status agencies monitored maintain independently
Procedure fee hire rigorous solely
- Many accounting departments have strict entrance requirements; only the most qualified applicants are allowed to enter these programs. (rigorous)
- The particular method used to process employee insurance claims may vary from company to company. (procedure)
- The stock market is closely watched every day. (monitored)
- Rather than expand into foreign lines, the dress shop manager chose to deal only with domestic fashion designers. (solely)
- Although the consultant’s charge for services was high, his guidance and advice were well worth the money. (fee)
- The financial condition of a company is reflected in its financial statements. (status)
- When the business began to expand, a second bookkeeper was brought in to help keep the books. (maintain)
- In the United States there are numerous organizations that provide services at the local, state, and national levels. (agencies)
Parties financial statement reflected standardized allows
Whereas interpretations informed communicates rigorous
An income statement is one example of a financial statement. It reflected financial information about a company over a period of time. A standardized format is used to present the financial information. This allows interested parties to compare one income statement to another in order to make informed financial decisions. But there is still a great deal of risk involved in financial decision making because the information communicates in an income statement is subject to a variety of interpretation.
Kata - kata yang sulit
Fee : upah
Hire : mempekerjakan
Rigorous : ketat
Solely : hanya
Whereas : padahal
An Introduction to Financial Management
Rabu, 25 November 2009
MANAGEMENT FUNCTIONS
• Planning
• Organizing
• Directing
• Controlling
Planning involves determining overall company objectives and deciding how thase goals can be achieved. Managers evaluate alternative plans before choosing a specific course of action and then check to see that the chosen plan fits into the objectives estabiished at higher organizational levels. Planning is listed as the first management function because the others depend on it. However, even as management move on to perfom other managerial functions, planning continues as goals and alternatives are further evaluated and revised.
Organizng, the second management function, is the process of putting yhe plan into action. This involves allocating resources, especially human resources, so that positions to be created and determine the associated duties and responsibilities. Staffing, choosing the right person for the right job, may also be included as part of the organizing function.
Third is the day to day direction and supervision of employees. In directing, managers guide, teach, and motivate workers so that they reach their potential abilities and at the same time achieve the company goals that were estabilished in the planning process. Effective direction, or supervision, by managers requires on going communication with employees.
In the last management function, controlling, managers evaluate how well company objectives are being met. In order to complete this evaluation, managers must look at the objectives estabilished in the planning phase and at how well the task assigned in the directing phase are being completed. If major problems exist and goals are not being achieved, then changes need to be made in the company’s organizational, or managerial, structure. In making changes, managers might have to go back and replan, reorganize, and redirect.
In order to adequately and efficiently perfom these management functions, managers need interpersonal, organizational, and technical skills. Although all four functions are managerial duties, the importance af each may vary, depending on the situation. Effective managers meet the objectives of the company through a successful combination of planning, organizing, directing, and controlling.
ATIK GUSTINI
2020717
3EB01
BUSINESS COMPUTER SYSTEM
Speed, a hight degree of accruary, and the ability to manipulate and store large amounts of data led to the early specialization of computers in data processing. More recently, the smaller personal computers (microcomputers) have become affordable, and software packages have been developed to support numerous business functions. Increasingly used as managerial tools, personal computers have become an integral part of many managers offices.
Computers and their applications have resulted in more efficient and productive business operation. They perfom routine functions such as payroll prepation and inventory control and more complex onessuch as sales forecasting and prepation of wait if questions for market analysis.
Computer tecnonoly is developing so rapidly that is difficult to foresee exactly what roles computers will play in business in the future. However, numerous computer applications are currently performing vital roles in business operations. Some of these include;
*word processing: using the computer to create, store, edit, and print text. Example of test include latters, memos, reports, and other written business communications. Replacing, the traditional typewriter, word processors are usually the first step in office automation.
*Networking : the integration of computer systems, workstations, and communications link. Computers network are designed to meet business requirements by allowing users repaid and simultaneous access to key business information. Computer applications such as electronic mail and teleconferencing are only possible in a networked computer environment.
*Database: a collection of information that is integrated and can be accessed for a variety of business applications. In this electronic filling system, businesses can store, update, and manipulate information related to options such as sales and costumer demographics more efficiently than in older generations of computer programs.
*Spreadsheet: a collection of numbers, formulas, and worksheet. The electronic spreadsheet contains rows and colums and is used for sales forecast, report, income statement and balance sheet preparation, and many other numerical analyses.
*Expert system: a sophisticated computer program that applies specialized knowledge drawn from human expert in order to solve problems. By applying symbolic logic and a series of rules, an expert system simulates the behavior of human in solving problems in similar situations.
The increasing power and affordability of computer hardware and software have led to an even wider use of computers in business. As a result of the development of the microprocessor, wich is really a computer on a chip, it is possible to have a portable electronic office. For a salesperson in the field, a computer that fits in a briefcase has quickly given way to one that can be held in the palm of the hand (palmtop). Equipped with a modem, the portable office allows instanneous communications with the home office for solving customer problems.
Computer technology and software applications are providing numerous opportunities for business. The challenge is to recognize these opportunities and manage them in a creative and knowledgeable way.
ATIK GUSTINI
2020717
3EB01
Sabtu, 14 November 2009
KUIS 1
BAHASA INGGRIS BiSNIS UNTUK TUGAS SOFTSKILL
1. Old bussines is exchange or trade for things people wanted or needed.
2. Stock Broker is in between businessman in the stock exchange.
3. Marketing is means the movements of goods and services from manufacturers to customers in order to satisfythe customers and to achieve the company’s objectives.
4. The target market is the group of customers or consumers who will probably buy the product is known as the target market.
5. Distribution is these product need to be moved from the factory to the market place.
6. System Analyst is a specialist in analizyzing the system for the computer.
7. Placement is involves getting the product to the consumers.
8. Goods are products that people either need or want ; for example, cars can be classified as goods.
9. Public accountans si a specialist in interpreting financial data who receives fee.
10. Price Leaders are the producers estabilised the average price.
11. Modem Business is the production, distribution, and sale of goods and services for a profit.
12. Computer Operator is an employee whose job is to operate the machine.
13. Product is goods or service that a company wants to shell.
14. Production is the creation of services of iron are into metal car parts.
15. Computer Programmer is specialist in field of writing the software for the computer.
16. Price is amount of money that a company want to charge for product.
17. Sale is the exchange of a product or service for money.
18. Bookkeeper is a specialist in writing and keeping financial information.
19. Promotion is communication about the product that take place between buyer and seller.
20. Profit is the money that remains after all the expenses are paid.
SOFTSKILL Bahasa Inggris Bisnis (1)
PROPOSAL PENYUSUNAN PENULISAN ILMIAH
(Sebagai syarat tugas SOFTSKILL Bahasa Inggris Bisnis)
PENGENDALIAN BIAYA OPERASI DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN LABA OPERASI PADA PERUSAHAAN BENGKEL TRALIS LISTRIK PT.SATIA
DIUSULKAN OLEH:
ATIK GUSTINI
20207179
3EB01
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2009
HALAMAN PENGESAHAN
PENULISAN ILMIAH
1.Judul Kegiatan : Pengendalian Biaya Operasi Dalam Rangka Mengoptimalkan Laba Operasi PadaPerusahaan Bengkel Tralis Listrik PT.SATIA
2.Bidang Kegiatan : Penelitain, wawancara, pencarian data
3.Bidang Ilmu : Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen
4.Pelaksana Kegiatan :
a. Nama Lengkap : ATIK GUSTINI
b. NPM : 20207179
c. Jurusan : S1/ AKUNTANSI
d.Universitas : GUNADARMA
e.Alamat Rumah : Perumahan Maharaja Blok F1/11
f. Alamat email : atik_kwokz25@yahoo.com
5.Jangka Waktu Pelaksanaan : 6 bulan (1 semester)
A. JUDUL
PENGENDALIAN BIAYA OPERASI DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN LABA OPERASI PADA PERUSAHAAN BENGKEL TRALIS LISTRIK PT. SATIA
B. LATAR BELAKANG
Sesuai dengan tujuan pembangunan yaitu menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila,maka berdasarkan sasaran pembangunan itu pemerintah membuat program peningkatan peranan segala sektor, baik dari sektor industri, perdagangan maupun jasa.
Sejalan dengan program pemerintah tersebut berbagai aktivitas masyarakat telah tumbuh dalam aneka bidang yang sifatnya menunjang tercapainya tujuan pembangunan. Sektor industri dan perdagangan merupakan salah satu bidang yang akhir-akhir ini berkembang pesat dengan ruang lingkup operasi yang luas baik nasional maupun internasional. Perkembangan ini sudah tentu membawa pengaruh besarnya terhadap peningkatan taraf hidup rakyat dan terciptanya peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.
Berdirinya banyak perusahaan, baik besar maupun kecil merupakan bentuk inisiatif dan peran serta masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui optimalisasi laba untuk kesejahteraan pemilik, para karyawan serta memberikan kemudahan bagi konsumen. Pengoptimalan laba ditujukan untuk kelangsungan hidup atau kontinuitas perusahaan itu sendiri. Dalam mencapai laba yang optimal, perusahaan harus menyadari perlunya akuntansi biaya yang baik dengan menerapkan sistem pengendalian.
Dalam era globalisasi saat ini dan krisis global yang sedang melanda dunia, perusahaan harus menemukan kebijakan yang pantas agar kontinuitas perusahaan tetap terjaga. Kontinuitas dan perkembangan perusahaan dapat terukur dari tingkat laba perusahaan yang di dapatkan setiap periodenya. Tolok ukur ini yang sangat berperan dan berpengaruh dalam perkembangan perusahaan.
Banyak perusahaan yang tergunjang akibat pengaruh krisis global saat ini. Ini merupakan tantangan bagi para pemilik dan pengelola perusahaan dalam mendapatkan laba yang diharapkan guna melanjutkan hidup suatu perusahaan.
C.PERUMUSAN MASALAH
Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang penulisan, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Sejauh mana keterkaitan elemen biaya operasi dengan pengoptimalisasi laba operasi perusahaan?
2. Bagaimana proses pelaksanaan pengendalian biaya yang dilakukan perusahaan?
3. Apa saja elemen biaya operasi yang dapat dikendalikan?
4. Sejauh mana peran pengendalian biaya operasi untuk mengoptimalkan laba operasi pada PT. SATIA
Pembatasan Masalah
Sehubungan dengan masalah yang akan dikemukakan oleh penulis adalah tentang pengendalian biaya, penulis sadar akan banyaknya unsur biaya yang akan dikeluarkan oleh suatu perusahaan. Namun penulis hanya membatasi pengendalian biaya didalam biaya operasi perusahaan.
D.TUJUAN
Sehubungan dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
- Untuk mengetahui keterkaitan elemen biaya operasi dengan optimalisasi laba.
- Untuk mengetahui proses pelaksanaan pengendalian biaya perusahaan.
- Untuk mengetahui elemen biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.
- Untuk mengetahui peranan pengendalian biaya pada PT. SATIA dalam mengoptimalkan laba.
E.MANFAAT PENELITIAN
- Sebagai informasi yang dapat berguna bagi semua pihak yang memerlukan dan membacanya.
- Untuk memperoleh pengetahuan mengenai penerapan dari teori yang telah penulis dapatkan selama kuliah.
- Sebagai salah satu sumbangan pemikiran kepada pihak manajemen perusahaan.
- Sebagai salah satu syarat guna memperoleh nilai mata kuliah Seminar Penelitian/Kerja Praktek pada jurusan Akuntansi jenjang strata satu di Universitas Gunadarma.
F.METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penulisan ini mencakup 2 (dua) metode, yaitu:
- Library Research (Riset Kepustakaan), di mana penulis meneliti kemudian mengumpulkan data dari beberapa literatur yang berhubungan dengan penulisan ilmiah ini, termasuk makalah, artikel majalah, kamus dan sebagainya.
- Field Research (Riset Lapangan), di mana data dan bahan dikumpulkan oleh penulis dengan melakukan observasi melalui wawancara dan mengumpulkan keterangan tertulis yang sesuai dengan masalah penulisan ilmiah ini.
G.LAMPIRAN :
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data personal
Nama : ATIK GUSTINI
Alamat : Perumahan Maharaja Blok F1/11
HP : 085718278296
Email : atik_kwokz25@yahoo.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Status : Belum menikah
Pendidikan Formal
2007- Sekarang Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma
2004-2007 SMA Negeri 1 CIAMIS
2001-2004 SLTP Negeri 1 CIAMIS
1995-2001 SDN 2 BUNISEURI-CIAMIS
Kursus
Kursus Brevet A di LEPMA UNIVERSITAS GUNADARMA
Workshop
Microsoft Excel for Financial Report Analysis
Seminar
Seminar Nasional Pasar Modal ”Dunia Akademis Sebagai Jembatan Masyarakat Berinvestasi di Pasar Modal”
Depok, 07 November 2009
ATIK GUSTINI
20207179
